Menulik Sejarah Kuliner Indonesia yang Mengagumkan

kuliner Indonesia
suaranusantara.com

KULINER INDONESIA – Ketika Bondan Winarno menyebarkan slonak “maknyuss” sadar atau tidak sebenarnya gerakan tersebut merupakan gerakan yang terkesan “hura-hura”.

Akan tetapi hal itu telah membangkitkan semangat untuk kembali menggali kekayaan kuliner bangsa Indonesia. Gerakan Pak Bondan ini banyak mendapat sambutan positif dari dunia kuliner.

Terbukti berramai-ramai media cetak maupun elektronik seperti tabloid, majalah, dan puluhan stasiun TV memuat konten yang serupa, yaitu terkait kekayaan kuliner Indonesia.

Yang mengesankan adalah, kebanyakan program tersebut membahas makanan khas Indonesia yang terkenal, terutama makanan khas daerah.

Para host berkeliling ke seluruh penjuru Indonesia untuk meliput warung-warung yang memiliki kuliner yang lezat. Ada yang bergaya lucu, ada juga yang bergaya serius, seolah-olah membangkitkan memori, mengingatkan kembali kekayaan warisan lelugur berupa masakan tradisional yang ternyata banyak digemari masyarakat Indonesia.

Setidaknya ini bisa memicu munculnya pengusaha-pengusaha muda untuk mengangkat kembali kuliner asli Indonesia yang bergizi, dan meninggalkan junk food yang tidak sehat bagi tubuh.

Kuliner tidak lagi milik chef atau koki yang mengupas buah dan sayur untuk hiasan makanan, atau kumpulan ibu-ibu rumah tangga yang suka memasak makanan. Akan tetapi dunia kuliner sudah menjadi sebuah gerakan bisnis yang di dalamnya perlu sebuah team dalam menjalankannya.

Perlu manajemen produk, strategi bisnis, dan pemasaran yang tepat agar usaha kuliner mereka bisa berkembang.

Besar harapan, semoga kuliner Indonesia berkembang usaha yang menjanjikan untuk kedepannya. Karena makanan adalah kebutuhan pokok bagi manusia yang tidak bisa ditawar. Jangan sampai kuliner Indonesia yang bergisi diganti dengna junk food yang tidak bergizi.

Kuliner Indonesia, Catatan Sejarah

kuliner Indonesia
cumibunting.com

Kata “kuliner” itu sendiri berasal dari bahasa Inggris “culinary” yang secara definisi berarti sesuatu yang berhubungan dengan masakan atau dapur.

Culinary lebih banyak dikenal masyarakat dengan tukang masak  yang memiliki tanggaung jawab untuk menghidangkan masakan supaya terlihat cantik dan lezat.

Beberapa institusi yang berkaitan dengan kuliner adalah fast food franchise, restoran, rumah sakit, hotel, perusahaan, dan catering dan lain sebagainya. (baca : catering Bandung)

Kuliner di dunia internasional sudah maju. Pendidikan kuliner di luar negeri merupakan “culinarian” yang banyak memberi kontribusi berkembangnya industri kuliner itu sendiri.

Mungkin kata yang pas untuk menggambarkan perkembangan pola konsumsi dan budaya makanan adalah gastonomi.

Sayang, kata itu kurang familiar di Indonesia dan mungkin cakupan bahasanya terlalu luas.

Kalau orang dengan kata “kuliner” lebih faham dengan masakan. Kata masakan di sini akan menjadi kunci untuk menjelaskan fenomena yang berkembang.

Di Indonesia, usaha kuliner banyak di dominasi oleh golongan ekonomi menengah ke bawah, pola konsumsi dimulai dari pedagang kaki lima dan warung kecil yang menyediakan kebutuhan makanan mereka sehari-hari.

Dari kebiasaan inilah, gerakan memasak yang bermula dari permintaan pasar, akan berubah menjadi gerakan ekonomi yang bisa menghasilkan miliaran rupiah.

Dalam catatan sejarah, relatif tidak ada domunentasi yang jelas dan akurat tentang kuliner Indonesia. Meskipun faktanya banyak masakan warisan masa lalu yang masih bisa dinikmati sampai sekarang, belum ada ahli sejrah kuliner yang menulis secara lengkap.

Kondisi ini diperburuk dengan kebijaksanaan yang tidak mendukung berkembangnya kuliner asli Indonesia.

Berkembangnya fast food (makanan cepat sajidan junk food (makanan sampah) ala barat turut memperburuk citra makanan nasional sebagai makanan pinggiran.

Kehadiran korporasi multi nasional dan aneka franchise luar negeri memperparah keadaan. Pergi ke restoran barat dianggap gaya hidup modern, sedangkan makan di warung tradisional, dianggap kelas pinggiran.

Akibatnya, golongan mudah yang hidup di tengah perkembangan ini sudah terpengaruhi otaknya bawa makan di restoran fast food ala luar negeri.

Bahasa Indonesia tersusun dari berbagai suku. Tiap suku memiliki masakan dengan karakter dan kenunikannya tersendiri. Jika dijumlahkan, ada ribuan masakan yang nusantara yang bisa kita nikmati. Hal ini merupakan kebanggaan kita sebagai warga Indonesia dan merupakan kekayaan budaya yang tidak ternilai harganya.

Ketika bangsa lain sibuk mengklaim beberapa masakan potensial Indonesia, bangsa ini tetap tidak bergeming. Tidak menyadari betapa kulier Indonesia sangat kaya.

Semoga sejarah kuliner kali ini bisa membangkitkan lagi kecintaan kita akan warisan budaya Indonesia dan memperjuangkannya jangan sampai direbut oleh negara lain.

,

Post navigation

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *